#MataBaruMembaca – Upaya Peningkatan Budaya Literasi di Indonesia

#MataBaruMembaca – Upaya Peningkatan Budaya Literasi di Indonesia

Kampanye dan challenge #MataBaruMembaca bertujuan untuk membantu pendistribusian buku ke pelosok negeri. Ini dalam rangka mewujudkan peningkatan budaya literasi anak guna menciptakan generasi yang produktif, unggul dan cerdas demi kemajuan bangsa.

Dua pendidikan yang memengaruhi pendidikan manusia: seni dan sains. Keduanya bertemu dalam buku.

Dikutip dari Kompas.com (2019) pengertian Literasi membaca adalah kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah, mengembangkan kapasitas individu, sebagai warga Indonesia dan warga dunia agar dapat berkontribusi secara produktif di masyarakat.

Menurut Puslitakjadikbud pada tahun 2019 indeks alibaca (aktivitas literasi membaca) berada di angka 37,32 (kategori aktivitas literasi rendah). PBB (UNESCO) pada 2016 terhadap 61 negara di dunia menunjukkan kebiasaan membaca di Indonesia tergolong sangat rendah. Hasil studi yang dipublikasikan dengan nama “The World’s Most Literate Nations”, menunjukan Indonesia berada di peringkat ke-60. Hanya satu tingkat di atas Botswana.

Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) tahun 2015 menunjukkan rendahnya tingkat literasi menunjukkan Indonesia menempati peringkat 62 dari 70 Negara. Kemudian Central Connecticut State University (CCSU) merilis peringkat literasi negara-negara dunia pada Maret 2016. Pemeringkatan perilaku literasi ini dibuat berdasarkan empat indikator kesehatan literasi negara, yakni perpustakaan, surat kabar, pendidikan, dan ketersediaan komputer. Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara yang disurvei.

Banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya budaya literasil. Hal ini terlihat dari hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2019. Sebanyak 3 provinsi masuk kategori sedang, 16 provinsi termasuk kategori rendah, dan 15 provinsi lainnya sangat rendah. Dimensi ini tersusun dari indikator akses di sekolah, seperti persentase perpustakaan sekolah dalam kondisi baik dan petugas pengelola perpustakaan sekolah. Serta indikator pengaksesan di masyarakat seperti tergambar pada persentase perpustakaan umum, perpustakaan komunitas, rumah tangga yang membeli surat kabar/ koran, dan rumah tangga yang membeli majalah/tabloid. Akses menjadi salah satu peyumbang terbesar mengapa budaya literasi di Indonesia masih rendah. Banyak daerah-darah pelosok di negeri ini yang kurang mendapatkan perhatian dan fasilitas buku yang kurang baik dari pemerintah, sehingga membuat generasi kurang melek buku.

Dikutip dari indonesiana.id (2020), setidaknya ada 6 (enam) dampak fundamental dari rendahnya budaya literasi masyarakat, yaitu:

  1. Tingginya angka putus sekolah. Tanpa budaya literasi maka kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan menjadi lemah. Di antaranya terlalu mudah untuk berhenti sekolah akibat ketidak-mampuan ekonomi.
  2. Merebaknya kebodohan yang tidak berujung. Rendahnya budaya literasi menjadi sebab ketidaktahuan di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Sehingga sulit memungkinkan masyarakat untuk sadar dan paham tentang peradaban.
  3. Meluasnya kemiskinan. Karena budaya literasi rendah menjadi sebab rendahnya kompetensi dan lemahnya akses ekonomi. Kemiskinan akan terus-menerus merongrong dan kian sulit dipecahkan.
  4. Tindakan kriminal atau kejahatan menjadi konsekuensi logis dari pendidikan yang rendah. Hal demikian diperparah pula dengan rendahnya budaya literasi.
  5. Rendahnya produktivitas kerja. Tanpa dukungan budaya literasi yang memadai maka ilmu pengetahuan gagal diubah menjadi kreativitas yang produktif. Sehingga gagal mengoptimalkan potensi diri yang dimiliki.
  6. Rentannya sikap tidak bijak dalam menyikapi informasi. Akibatnya hoax dan ujaran kebencian mendominasi kehidupan dan media sosial. Budaya literasi yang rendah pada akhirnya membuat sulit menyeleksi informasi benar atau tidak benar.

Oleh karena itu, #MATABARUMEMBACA HADIR guna mengajak semua orang memiliki kesadaran betapa petingnya aktivitas membaca dan melakukan refleksi hasil bacaan dengan informasi yang diperoleh. Dengan tujuan mengalang dana untuk kegiatan Sedekah Buku Indonesia mengirimkan bahan literasi yang berkualitas berupa buku dan mainaan edukatif. Lewat kampanye #MataBaruMembaca, Sedekah Buku Indonesia ingin mendorong kamu dan semua orang mulai membangun aktivitas membaca dengan penuh pemaknaan. Sebab inilah esensi dari budaya literasi yang mau Sedekah Buku angkat di kampanye ini. Selain itu, kamu pun juga akan menemukan habit membaca dengan cara yang asyik melalui challenge #MataBaruMembaca ini. Dengan mengikuti challenge #MataBaruMembaca, kamu pun telah ikut berdonasi pula untuk anak-anak Indonesia yang sanggat membutuhkan bantuan kalian.

Untuk ikutan challengenya, kamu bisa klik link berikut ini: https://s.id/MataBaruMembaca .

Referensi

  • Harususilo, Y. E. (23 Juni 2019). Literasi Baca Indonesia Rendah, Akses Baca Diduga Jadi Penyebab – Kompas.com. KOMPAS.com. https://amp.kompas.com/edukasi/read/2019/06/23/07015701/literasi-baca-indonesia-rendah-akses-baca-diduga-jadi-penyebab
  • Andriani, D. (20 Mei 2020). Kenapa Literasi di Indonesia Masih Rendah? Bisnis.Com. https://lifestyle.bisnis.com/read/20200520/220/1242989/kenapa-literasi-di-indonesia-masih-rendah
  • Enam Dampak Fundamental Rendahnya Budaya Literasi Masyarakat Indonesia. (24 Mei 2020). http://www.indonesiana.id/read/140202/enam-dampak-fundamental-rendahnya-budaya-literasi-masyarakat-indonesia
Fakta rendahnya literasi di Indonesia adalah sebuah fenomena yang perlu perhatian dari semua pihak. Data menyebutkan berdasarkan survei yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019 menempatkan Indonesia berada di posisi 62 dari 70 negara. Tidak meratanya fasilitas perpustakaan dan bahan bacaan yang ada di kota dan daerah pelosok adalah salah satu dari sekian banyak penyebab literasi di Indonesia rendah. Dampak dari literasi yang rendah menyebabkan masyarakat menjadi mudah termakan hoaks, rendahn Gerakan ini yang bertujuan meningkatkan kemampuan literasi masyarakat Indonesia. Diawali menggugah kesadaran (awareness) masyarakat Indonesia perihal pentingnya kemampuan literasi yang memadai. Kami meyakini masyarakat yang memiliki kemampuan literasi akan membangun generasi yang cakap dalam berpikir hingga bertindak. Hal ini bermula dari kemampuan menyeleksi informasi yang benar, mengolah dengan tepat, hingga memiliki pemahaman utuh. Kemampuan ini menjadi bekal berkelanjutan dan lebih baik lagi dalam memproduksi informasi berbentuk dalam tulisan, visual, audio, dll. ya kemampuan dalam menalar, rendahnya kemampuan pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan lain-lain. Terakhir kali menggunakan buku jurnal ini tujuh tahun yang lalu. Sebetulnya mau tunjukin isinya, tapi udah dibuang bukunya sewaktu beberes kamar, jadi ya sudah, foto edisi yang masih ada saja (ini edisi yang kelas 10 SMA). Saya masih sangat ingat sekali momen tiga tahun bersekolah di salah satu SMA terkenal di Menteng -khususnya di dua tahun terakhir. Tiap kali selesai pembelajaran di kelas, saya hampir selalu memanfaatkan slot waktu yang disediakan untuk melakukan refleksi. Dan di samping itu, saya juga sangat suka memanfaatkannya untuk mencatat “To Do List” terkait tugas-tugas semasa sekolah saat itu. Kini, saya pun memetik buah hasilnya dari upaya-upaya di atas. Saya menjadi jauh lebih tanggap membaca fenomena kehidupan yang tengah terjadi. Dan bicara terkait konteks literasi, yang benar-benar saya pelajari ialah bagaimana mengelola, mengolah, serta menyusun dan juga merapikan semua “To Do List” tadi untuk kemudian dibagikan pada teman-teman kelas ataupun angkatan. Juga memilah mana yang masih memungkinkan untuk diselesaikan pada deadline yang telah ditentukan serta mana yang memerlukan waktu lebih. Dan setelah itu mencoba berunding dengan guru pengajar yang bersangkutan serta meminta pertimbangan dari teman-teman kelas / angkatan -sekaligus melatih kemampuan negosiasi saya. Jadi, manfaatkanlah dengan sebaik mungkin apapun perangkat literasi yang telah kalian dapatkan / miliki, entah itu dalam bentuk fisik ataupun digital. Terima kasih, BUKU JURNAL KANISIAN Andalanku! Terima kasih telah hadir dalam kehidupankau. Banyak hal yang telah kita lalui bersama. Dan aku telah menyimpan banyak kenangan dan mencurahkan, menuliskan semuanya dalam Buku Jurnal itu. #SedekahBukuID #BerbagaiJendelaMimpi #AnakIndonesia Kali ini, saya mau berbagi cerita tentang semua perangkat andalan saya dalam menulis: kertas coretan, 1 paket kertas folio, buku tulis, pulpen hitam, pulpen merah, dan tipex. Selalu saya bawa buat menemani saya membuat ide penulisan, melahirkan karya demi karya dari tiap idenya. Si kertas coretan saya pakai untuk menyusun seluruh kerangka ide dan menuliskannya. Ide lengkapnya lalu saya tulis ulang sembari merapihkan juga melakukan koreksi dalam kertas folio ataupun buku tulis. Pulpen hitam buat melakukan penulisan dan juga pulpen merah serta tipex untuk melakukan koreksi ataupun perbaikan. Bicara konteks literasi, saya sangat paham apa arti sesungguhnya dari sebuah penulisan. Hakikatnya yakni meningkatkan kemampuan literasi dari aspek memproduksi informasi. Dan dalam tiap kesempatan penulisan, saya benar-benar memanfaatkannya semua perangkat penulisan tadi guna mencapai kemampuan memproduksi informasi yang mumpuni. Terlebih, consent utamanya bagi saya ialah pesan dari penulisan tersebut tersampaikan dengan baik. Yuk, sedari dini kita manfaatkan dengan baik perangkat yang kita miliki supaya bisa terus meningkatkan kemampuan literasi kita. #SedekahBukuID #BerbagaiJendelaMimpi #AnakIndonesia Helping, Caring, then Loving. How could we do this all little by little in gentleness? Probably that is what we have kept asking to ourselves. Reality might literally daunt us to be through unpleasant truth. Yes. Anything will do. Let alone the insignificant thoughts have spoilt and drastically surged ourselves into unhappiness. But if we self-handicapped ourselves from doing good, then nothing good would come back to us. The Gain: Not Winning But Being Right So, the attitude of one’s mind does matter enormously. As by a thought a man can do everything. He can love, he can be helpful, he can be involved, he can heal the ones in misery, and he can even influence a crowd. Contrarily, he can curse, hate, and also kill. There, we are to ponder again our objective of doing kindness. Were it only to either please others or console ourselves from disappointment towards cruelty, we would have eventually ceased and unawares been cutting the stones merely. But if it is to forge ourselves and broaden the wisdom, we will surely lead our life (and someday all the universe) into the surroundings filled by positivity. The meaning is the true gain of “Helping, Caring, then Loving” act is not by winning over every object, but by being right in any circumstance -though nobody does it. Because being right is even harder than being happy or just being good. Not to mention we do have to acquire such character through the learning of ongoing consistency. Thus is what I have been often witnessing the entire year. As an instance, the literacy community I have joined, Sedekah Buku Indonesia (SBI) with a study group from Rumah Perubahan resolved to support an orphanage in Greater Jakarta. We made all the plan (in April) -including books and craft tools offering- and chose to run the act during the fasting month of Ramadhan (May 19th, 2018). The more I was involved, the further I realized they took a step ahead to do kindness. Everybody simply intended to present smile yet happiness to the children there with cheerful atmosphere. Another exemplary is when the SBI fellows were settled to fulfill the open project of book’s donation to a region in Papua: Sorong. Rather, to extend the importance of having knowledge, they collaborated with Book for Papua community. Even it needed come into a decision to involve a young fellow from Rumah Perubahan to exchange idea with its local residents. And what made the effort memorable is the fulfillment that occurred in our nation’s 73rd annual Independence Day (August 17th, 2018). More, the SBI community’s vision to near itself through the work of broadening the balance of knowledge through education is very inspiring. All is for the sake of the larger outreach and broader balance of knowledge. These youngs have already proved that anyone can fill his/her life by doing right with full steam of determination in freedom. They are fully aware of what has been sustaining the country for long: dedication of helping one another. Their heart is more than caring; their heart is loving. Need we seek for evidence anymore? Just take a leaf from them. It is said that we are what we read and who our friends are. And right friends are the ones that helping and enabling us to live in right attitude (both morally yet spiritually) and happiness as well with GOD’s grace. From Burden to Courage The more we pay attention to argue for opinion against others, the more we are wasting every second of our active life to nowhere. As the result, more people will highly suffer because we let the plight take control of our life. Then, what is the aim of fighting again and again? Had it only burdened our mind, wouldn’t it spoil the core essence of living itself? However, we shall learn to fully control the flow of our mind, and let it welcome thoughts that are good and worthy too. If not, how else? Well, let me share this genuine story of mine to bear the despair over the miserable legacy a more. It is about my family’s legacy in which it is lacking of ability to openly welcome a brand-new approach. Unawares, my relatives -notably my parents- only perceived the reality partially. Consequently, they had a very biased way of living. I wish after entering the world of volunteerism it would have influenced their way of thinking. But alas, they remained the same. I was really frustrated. And it nearly killed me during the process to accept the fact; not to mention my heart still couldn’t fully admit it. Luckily, the friends and environment I have chosen by myself (in the planet-earth’s guidance) truly provided me meaningful work which did engage the legacy of loving one another and merge every idea in a positive way for the good of the others. A month ago, for instance, I offered myself to directly compile all the work of SBI community in a writing content. The founder openly gave me a very obvious opportunity to compose it entirely. There apparently lightened my burden and progressively converted it to courage. And later, she even granted me to build up all the concept for the community’s website (www.sedekahbuku.id) under her guidance. Let alone SBI had a chance to receive more plenty of book and educative tools’ donation in a festive National Volunteer Day event arranged by IndoRelawan (December 1st, 2018), and we, its fellows, were determined to take it to run the project for the regions affected by natural catasthrope: Palu and Lombok. Obviously, it is a privilege to witness those all at the young age yet productive term. And here is a lovely way not to give in to discouragement: “No need to prove ourselves and our work. Dare to set our mind right, and set our best foot forward.” We would rather endure in adversity than make bad choices invariably. So, it is high time we dared merge all the burden and transform it into courage. Only we can do it for ourselves. But firstly, we must acknowledge ourselves, our mistakes, and our weaknesses. Open our heart towards the wisdom in honesty. Surely, our burden will be lighter. And there will flow happiness to arouse the courage in gladness. (Always) Hardest Choice The act of “Helping, Caring, then Loving is truly connected to the harmony between thought, word, and deed. And it is the hallmark of the avail of living itself. Yet, we often heave ourselves about insignificant things in life. And some keep lying to themselves and anyone else as though nothing would come back after them. In any journey, not every day can be bright, and always does the hardest choice inescapably prevail. It is to be meant as the mixture of sunshine and pleasure, yet teardrops and pain. Each has the role to imbue every person with an emphatic outlook, not to let the mankind to be preoccupied with his own acquisitive aspirations. As the measure of truest sense is about to be keen with full justice (what can/must be done), not to be pliable to regret (what should have been done). Lo! One day, somebody, somewhere in this planet-earth, will smile back at us naturally. And know this. We will love one another always. That is the nature of living. So keep helping, caring, and then loving. Happy Holiday.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *